Promosi MKJP Perlu Ditingkatkan
JAKARTA, bkkbn online
Kontrasepsi dengan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) masih sangat minim. SDKI 2012 pemakaian MKJP baru mencapai 25 persen. Tahun 2014, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menargetkan bisa mencapai 27,5 persen. Oleh karena itu, perlu promosi lebih gencar lagi.
Plt Kepala BKKBN, Sudibyo Alimoeso mengatakan, MKJP paling efektif untuk menekan angka kelahiran dan laju pertumbuhan penduduk. Alasannya, akseptor tidak perlu berkali-kali mengulang pemakaian kontrasepsi. Pengulangan pemakaian kontrasepsi seperti pil dan suntik, seringkali tidak dipatuhi oleh akseptor, sehingga risiko hamil tanpa rencana menjadi lebih besar. “Tapi sayangnya pemakaian MKJP masih sangat minim,” kata Sudibyo di Jakarta, Senin (27/5).
Kontrasepsi yang termasuk dalam MKJP adalah metode operasi wanita (MOP) atau tubektomi atau metode operasi pria (MOP) atau vasektomi, IUD dan implant. “Masyarakat masih minim yang menggunakan MJKP, karena sosialisasi penggunaan MKJP oleh tenaga kesehatan juga minim,” kata Sudibyo.
BKKBN tengah menyiapkan formulasi agar bidan mau melayani masyarakat menggunakan MKJP. Selain upaya mengurangi angka kelahiran, program KB juga dapat menekan kematian ibu melahirkan. Kesuksesan program KB sangat mendukung keberhasilan pencapaian pembangunan millennium (MDGs). Oleh karenanya, calon akseptor atau akseptor aktif diminta untuk menggunakan MKJP. “Pil KB dan KB suntik tingkat kegagalannya tinggi, karena akseptor tidak disiplin atau ada kendala akses pelayanan,” ujarnya.
Solusi yang akan dilakukan BKKBN antara lain, memberikan insentif kepada bidan dan pemberi layanan KB. Tujuannya agar pelayanan KB khususnya MKJP dapat lebih efektif. Pemasangan kontrasepsi MKJP pasca melahirkan juga menjadi sasaran program KB. “Bisa saja, nanti dianggarakan melalui APBN,” kata Sudibyo.(kkb2)