MENKES JANJI MEREVISI PERATURAN YANG HAMBAT PROGRAM KB

 

Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi berjanji akan segera meninjau dan merevisi peraturan-peraturan yang menghambat program keluarga berencana (KB). Dukungan Menkes ini menjadi semangat baru dalam pembangunan kependudukan dan revitalisasi program KB dengan slogan “Dua Anak Cukup”.

 

“Program KB jangan dianggap enteng, kita ingin penduduk tumbuh seimbang, artinya jumlah bayi yang lahir sama dengan jumlah kematian. Pertumbuhan penduduk juga harus diimbangi dengan kualitas penduduk yang baik,” kata Menteri Kesehatan saat membuka Rakornas Kemitraan BKKBN dengan IDI dan IBI di Jakarta, Kamis (11/4) malam. Rakornas berlangsung hingga Sabtu (13/4).

 

Total Fertility Rate (TFR) atau angka rata-rata kelahiran dari wanita usia subur sebesar 2,1 diharapkan dapat dicapai pada 2014. Namun, kenyataannya, dalam 10 tahun terakhir TFR tetap stagnan di angka 2,6. Ini merupakan lampu merah bagi bidang kesehatan.

 

“Menurunkan angka kematian ibu dan kematian anak, serta mengurangi kasus HIV/AIDS memang sulit dicapai pada 2015, tetapi waktu dua tahun ini harus kita manfaatkan sekuat tenaga. Manajemen pelayanan kesehatan juga harus ditingkatkan,” kata Menkes.

 

Menkes mengatakan, pelayanan KB harus ada di tingkat pelayanan dasar. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) mempunyai kekuatan besar yang dapat mendukung program KB. “Seharusnya Program KB ini juga menjadi milik IDI dan IBI. Jangan ada lagi dokter dan bidan yang tidak bisa memasang IUD. Dokter dan bidan harus terlatih dan terampil memasang IUD. Saya akan segera meninjau dan mengubah peraturan yang menghabat program KB,” ujarnya.

 

Sementara itu, Plt Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sudibyo Alimoeso mengatakan, pihaknya menyambut baik upaya Menkes merevisi peraturan yang menghambat suksesnya program KB.

 

Sudibyo mengatakan, beberapa indikator yang masih memerlukan kerja keras dan menunjukkan situasi “lampu merah” , antara lain laju pertumbuhan penduduk yang meningkat, TFR yang stagnan atau disebut “stalling fertility”. Fertilitas yang stagnan ini karena adolescent fertility (kelahiran di kalangan pasangan usia remaja) meningkat,  prevalensi pemakaian kontraspesi (CPR) stagnan dan  unmet need pelayanan KB yang turun tapi tidak signifikan.